Teknologi

Formula Cara Memilih HRIS yang Tepat & Stop HR Sistem Manual

cara memilih hris yang tepat

Jmc.co.id – Perusahaan yang mau transformasi HR sering terjebak di pertanyaan sederhana tapi krusial: bagaimana memilih HRIS yang benar-benar cocok? Cara Memilih HRIS yang Tepat yang bukan cocok di brosur, tapi cocok di ritme kerja harian. HRIS itu bukan sekadar aplikasi untuk simpan data karyawan, tapi sistem yang mengubah cara informasi mengalir, cara keputusan diambil, dan cara tim HRD serta manajer bekerja tanpa dobel input. 

Artikel ini akan mengulas cara memilih HRIS yang tepat secara realistis, lengkap, dan tetap relevan buat perusahaan besar yang kompleks, UKM yang serba multitasking, sampai startup yang butuh sistem ringan dan cepat go-live. 

Memahami Esensi Memilih HRIS yang Tepat

Sebelum masuk ke kriteria, penting untuk memandang HRIS sebagai ekosistem, bukan sekadar software HR biasa. Selanjutnya, platform ini akan jadi pusat data karyawan, payroll, attendance, performance, hingga hiring pipeline. Artinya, setiap modul harus sinkron satu sama lain, dan lebih ideal lagi jika bisa sinkron dengan sistem eksternal seperti ERP, accounting, atau database finance. 

Disisi lain, banyak perusahaan merasa gagal dengan implementasi HRIS karena sistemnya berdiri sendiri, tidak terhubung, dan akhirnya memunculkan double entry yang menguras waktu tim. Pada praktiknya, data payroll yang harus diinput ulang di finance setelah diinput di HRIS adalah contoh kecil dari masalah besar yang sering luput di fase seleksi. Karena itu, memilih HRIS bukan sekadar mengganti tool, melainkan mengganti cara kerja internal menjadi lebih cepat, akurat, dan terhubung. 

Dengan cara ini, proses HR bisa jadi enabler strategi, bukan penghambat operasional.

Baca Juga: Solusi HRIS Ringan HRIS untuk Startup

Menentukan Problem Utama Sebelum Menimbang Vendor

Pada praktiknya, memilih sistem HR dimulai dari dua pertanyaan besar: apa yang ingin diselesaikan, dan apa dampaknya ke bisnis. Selanjutnya, kedua hal ini harus dijawab dalam bentuk problem statement yang spesifik dan terukur.

Memilih HRIS yang tepat sering gagal karena tim fokus pada fitur, bukan masalah. Artinya, fitur yang banyak tanpa konteks hanya akan jadi beban implementasi. Pada praktiknya, daftar problem yang solid lebih powerful untuk memetakan vendor dibanding daftar fitur yang panjang. 

1. Mulai dari Problem Statement, Bukan Fitur

Pada praktiknya, pendekatan terbaik selalu dimulai dari daftar masalah internal. Selanjutnya, pastikan masalah itu spesifik, terukur, dan benar-benar menguras waktu atau biaya. Artinya, bukan sekadar “biar keliatan modern”, tapi “biar prosesnya hemat 30 jam per minggu” atau “biar error payroll turun di bawah 1%”.

Di sisi lain, fitur yang terlalu banyak tanpa problem yang jelas hanya akan menambah kompleksitas. Selanjutnya, fokus ke core issue akan mempermudah proses shortlist vendor. Hasilnya, sistem yang dipilih lebih impactful dan tim lebih cepat adaptasi.

2. Pastikan HRIS Bisa Bicara dengan Sistem Lain

Selanjutnya, integrasi adalah syarat wajib. HRIS harus bisa connect lewat API, webhook, atau integrasi native dengan software lain yang sudah dipakai. Pada praktiknya, API yang matang lebih penting daripada UI yang manis. Karena itu, pastikan vendor bisa menunjukkan dokumentasi API yang stabil dan support integrasi dua arah.

Di sisi lain, sistem yang hanya bisa export Excel tanpa konektivitas real-time akan memaksa tim kerja manual lagi. Artinya, automasi setengah matang sama saja seperti manual 2.0. Hasilnya, data jadi lambat dan insight nggak up-to-date.

3. Cek Security, Compliance, dan Ownership Data

Selanjutnya, HRIS akan menyimpan data sensitif: gaji, NIK, alamat, kontrak, hingga performa. Karena itu, pastikan ada enkripsi data, role-based access, audit log, dan compliance standar seperti ISO 27001 atau SOC 2. Pada praktiknya, ownership data harus 100% dipegang internal perusahaan.

Di sisi lain, HRIS yang tidak transparan soal penyimpanan data atau tidak punya audit trail berisiko jadi celah keamanan. Artinya, keamanan HRIS bukan fitur tambahan, tapi syarat utama.

Menilai UX, Flow, dan Adoption Tanpa Drama

Setelah teknis aman, yang sering bikin HRIS gagal justru pengalaman pemakaiannya. Karena itu, cara memilih HRIS yang tepat juga harus melihat apakah flow-nya terasa alami bagi tim, bukan memaksa tim berubah ekstrim hanya demi mengikuti sistem.

  • Aplikasi punya tampilan simpel yang mempercepat proses input, hasilnya HRD tidak butuh training panjang untuk hal dasar.
  • Approval flow cuti, lembur, klaim, dan dokumen jalan lewat sistem, karena itu chat internal jadi lebih rapi dan tidak menumpuk approval di tempat terpisah.
  • Karyawan mengisi data sendiri lewat portal atau mobile app, hasilnya HRD fokus ke validasi dan strategi, bukan entry data harian.
  • Menu dan modul bisa dikustomisasi sesuai budaya kerja startup, pada praktiknya flow terasa lebih natural dan tidak mengganggu ritme kerja.
  • Tim manajer mengelola approval dan melihat performa lewat dashboard, artinya keputusan tidak lagi menunggu rekap manual mingguan.

JMC memetakan flow kerja, mengcustom approval logic, menyiapkan training yang efisien, dan memonitor adoption rate tim. Karena itu, HRIS terasa membantu, bukan mengintimidasi.

Menimbang Value, Biaya, dan Potensi ROI

HRIS yang tepat bukan cuma yang murah, tapi yang balik modalnya cepat lewat efisiensi. Startup dan perusahaan kecil sering menilai HRIS ringan sebagai investasi operasional yang harus hemat resource. Karena itu, manfaat HRIS perusahaan kecil biasanya baru terasa jika biaya implementasi dan maintenance tetap terkontrol.

  • Biaya langganan dihitung per user dan tetap wajar saat skala tim bertambah, hasilnya startup tidak perlu ganti sistem saat hiring naik cepat.
  • Modul yang aktif hanya yang dipakai, artinya biaya tidak bocor untuk fitur yang tidak relevan.
  • Otomatisasi payroll dan attendance mengurangi beban kerja manual, hasilnya cost tenaga dan jam kerja administratif turun signifikan.
  • Data yang rapi mempercepat proses audit dan investor check, karena itu proses fundraising lebih mulus tanpa drama data berantakan.
  • Sistem yang stabil mengurangi risiko downtime saat proses hiring tinggi, hasilnya operasional tidak terganggu saat momentum growth.

JMC membantu menghitung potensi efisiensi jam kerja, compliance cost reduction, serta impact sistem ke audit dan investor readiness. Karena itu, cara memilih HRIS yang tepat bisa diukur lewat proyeksi ROI yang realistis, bukan asumsi.

Baca Juga: Siapakah Vendor HRIS Terbaik di Indonesia untuk Kebutuhan Bisnis Modern

Contoh Impact dari HRIS yang Tepat ke Bisnis

Selanjutnya, HRIS yang tepat akan:

  • Mengurangi pekerjaan manual payroll hingga 0%
  • Menurunkan error data karyawan di bawah 1%
  • Mempercepat approval cuti dan reimburs jadi real-time
  • Memberi insight hiring berbasis data, bukan feeling
  • Menjaga keamanan data lewat governance yang ketat

Pada praktiknya, impact ini yang seharusnya jadi KPI saat memilih platform.

Memilih HRIS yang Tepat Bukan Proyek IT, Tapi Proyek Bisnis

Selanjutnya, HRIS bukan cuma software HR. Ia adalah investment ke efisiensi, keamanan, dan masa depan bisnis. Karena itu, memilih HRIS yang tepat harus diperlakukan sebagai keputusan strategis, bukan operasional. Artinya, bukan sekadar pindah sistem, tapi pindah ke cara kerja yang lebih cepat, aman, dan siap tumbuh.

Di sisi lain, keputusan yang matang akan menghemat waktu, biaya, dan tenaga di masa depan. Hasilnya, HRIS yang tepat akan terasa seperti natural extension dari cara kerja internal, bukan alat baru yang memaksa tim menyesuaikan diri.

Tim JMC bantu mapping kebutuhan, bantu integrasi API, bantu migration data, bantu compliance setup payroll Indonesia, bantu deployment cloud yang scalable, dan bantu support SLA yang cepat, biar sistem HR terasa matang dan trusted buat dipakai setiap hari. Hubungi JMC IT Consultant dan lakukan diskusi bersama untuk mulai bangun rel HR digital yang stabil tanpa drama data beda versi.

Saya Mau Diskusi